Pemimpinmasadepan.news – Jakarta, 23 Juli Mitra Asosiasi Pengusaha Gizi Indonesia (APGI) 3T yang membangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) mengaku tidak memiliki pilihan selain terus memperjuangkan kepastian operasional dan penyelesaian hak mereka melalui jalur aksi damai.
Salah satu mitra APGI 3T, Wawan, mengatakan dirinya bersama puluhan investor dan mitra SPPG dari berbagai daerah datang ke Jakarta untuk mengikuti aksi damai di depan Kantor Badan Gizi Nasional (BGN), Kamis (23/7). Aksi tersebut dilakukan setelah berbulan-bulan para mitra menunggu kepastian operasional serta penyelesaian pembayaran atas dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah selesai dibangun.
Menurut Wawan, perjuangan tersebut bukan sekadar memperjuangkan kepentingan pribadi, tetapi juga memastikan program MBG di wilayah terpencil tetap dapat berjalan sesuai tujuan pemerintah.
“Yang kami perjuangkan adalah kepastian operasional dan penyelesaian hak-hak kami. Kami sudah menunggu berbulan-bulan sejak pembangunan selesai, tetapi sampai sekarang belum ada kepastian,” kata Wawan.
Ia menjelaskan, selama masa penantian itu para mitra APGI 3T menghadapi tekanan yang tidak ringan. Selain harus menanggung beban finansial akibat investasi yang telah dikeluarkan, mereka juga harus menjawab pertanyaan masyarakat di daerah mengenai kapan dapur SPPG mulai beroperasi.
Menurutnya, sejumlah kontraktor lokal yang ikut membangun dapur juga masih menunggu penyelesaian pembayaran atas pekerjaan yang telah mereka selesaikan.
“Dampaknya sangat besar. Di kampung kami terus ditanya kapan dapur mulai beroperasi. Sementara ada kontraktor yang sampai sekarang juga belum menerima pembayaran,” ujarnya.
Meski menghadapi tekanan ekonomi dan sosial, Wawan menegaskan para mitra APGI 3T tidak berniat menghentikan perjuangan mereka. Baginya, mundur justru akan membuat kerugian yang telah dialami semakin besar.
“Kalau mundur justru kami semakin rugi. Kami sudah mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya yang besar. Karena itu kami memilih terus berjuang sampai persoalan ini benar-benar selesai,” katanya.
Aksi damai yang dilakukan APGI 3T sempat diwarnai ketegangan sebelum akhirnya perwakilan mitra diterima berdialog dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono. Dalam pertemuan tersebut, para mitra menyampaikan secara langsung berbagai persoalan yang mereka hadapi selama pembangunan SPPG di wilayah terpencil.
Wawan mengaku pertemuan itu memberikan harapan baru setelah Sudaryono menyampaikan komitmen untuk mencari solusi yang tidak merugikan para mitra yang telah mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
“Kami bersyukur akhirnya bisa bertemu langsung dengan Kepala BGN. Kami berharap komitmen yang beliau sampaikan segera diwujudkan dalam langkah nyata,” ujarnya.
Menurut Wawan, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan tersebut karena para mitra telah menjalankan penugasan dalam rangka mendukung program prioritas nasional Presiden Prabowo Subianto.
Ia menegaskan bahwa mitra APGI 3T tetap mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis, khususnya di daerah-daerah terpencil yang selama ini memiliki keterbatasan akses pangan dan layanan publik.
“Kami tetap mendukung penuh Program Makan Bergizi Gratis. Yang kami perjuangkan bukan menghentikan program ini, tetapi memastikan para mitra yang sudah berinvestasi dan bekerja untuk negara tidak dirugikan,” kata Wawan.
Usai pertemuan dengan Kepala BGN, para mitra APGI 3T memilih menunggu tindak lanjut dari komitmen yang telah disampaikan pemerintah. Mereka berharap penyelesaian dilakukan secepat mungkin agar operasional dapur SPPG di wilayah 3T dapat segera berjalan dan manfaat program MBG benar-benar dirasakan masyarakat.
“Kami akan menunggu perkembangan yang dijanjikan BGN. Mudah-mudahan tidak memakan waktu lama lagi dan seluruh persoalan ini segera selesai sehingga dapur-dapur SPPG di daerah terpencil bisa beroperasi sesuai tujuan awal program,” tutup Wawan.


