Labura, Pemimpinmasadepan.news || Tuduhan pelanggaran distribusi LPG subsidi 3 kilogram terhadap PT Sukses Tiga Serangkai (STS) kini memasuki babak baru. Tak lagi sekadar membantah, pihak perusahaan justru mulai membuka lapisan demi lapisan dugaan yang dinilai sarat kepentingan tersembunyi.
Melalui perwakilan manajemen berinisial AD, PT STS menegaskan bahwa aktivitas distribusi yang mereka jalankan selama ini bukan pelanggaran, melainkan langkah teknis untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat—terutama di wilayah sulit akses seperti Kualuh Hilir.
“Kalau ini disebut pelanggaran, lalu bagaimana masyarakat di daerah terpencil bisa mendapatkan LPG? Ini solusi lapangan, bukan penyimpangan,” tegas AD dengan nada keras.
Distribusi Dipersoalkan, Fakta Lapangan Diabaikan?
Dalam penelusuran internal perusahaan, sistem distribusi yang dipersoalkan justru disebut sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi geografis dan keterbatasan akses. Keterlibatan perantara disebut sebagai upaya percepatan, bukan pelanggaran.
Setiap pengangkutan, lanjut AD, telah dilengkapi dokumen resmi berupa surat jalan. Namun, fakta tersebut disebut-sebut luput dari sorotan dalam sejumlah pemberitaan yang beredar.
“Yang diangkat hanya potongan informasi. Fakta utuhnya tidak disampaikan. Ini yang kami pertanyakan,” ujarnya.
Dugaan Tekanan Menguat: THR atau Pemberitaan Negatif?
Di balik mencuatnya isu ini, PT STS mengungkap adanya dugaan tekanan yang mengarah pada praktik tidak sehat. Berdasarkan informasi yang dihimpun, polemik ini disebut bermula dari permintaan uang Tunjangan Hari Raya (THR) oleh oknum yang mengaku sebagai wartawan.
Dua nama berinisial SS dan FS disebut meminta sejumlah uang dengan nominal tertentu. Namun, ketika permintaan tersebut tidak dipenuhi, muncul pemberitaan yang dinilai menyudutkan perusahaan secara sistematis.
Apakah ini bentuk kritik atau justru tekanan terselubung? Pertanyaan ini kini mulai mencuat di tengah publik.
Aroma Persaingan Usaha Tak Sehat Ikut Tercium
Tak berhenti di situ, perusahaan juga mengindikasikan adanya dugaan persaingan usaha tidak sehat yang ikut bermain di balik polemik ini. Sumber internal menyebut ada pihak yang merasa terganggu secara bisnis dengan pola distribusi yang dijalankan PT STS.
“Kalau ini murni soal regulasi, kami siap buka data. Tapi kalau sudah masuk kepentingan bisnis dan tekanan, ini harus diusut,” ungkap sumber tersebut.
Indikasi ini memperkuat dugaan bahwa polemik yang muncul bukan semata persoalan distribusi LPG, melainkan konflik kepentingan yang lebih luas.
Pemberitaan Disorot: Menggiring Opini Tanpa Konfirmasi?
PT STS juga melontarkan kritik tajam terhadap sejumlah media yang memberitakan isu ini tanpa melakukan konfirmasi kepada pihak perusahaan. Prinsip dasar jurnalistik seperti keberimbangan (cover both sides) dinilai diabaikan.
“Ini bukan lagi soal salah atau benar. Ini soal bagaimana informasi dibentuk. Kalau tidak ada konfirmasi, itu bukan berita—itu opini yang dipaksakan,” tegas AD.
Dampak dari pemberitaan tersebut disebut telah merusak reputasi perusahaan dan memicu kegaduhan di tengah masyarakat.
Desakan Menguat: Aparat Diminta Bongkar Semua, Tanpa Terkecuali
Situasi ini kini memicu desakan kuat dari berbagai pihak agar aparat penegak hukum turun tangan secara serius dan menyeluruh. Bukan hanya soal dugaan pelanggaran distribusi, tetapi juga kemungkinan adanya pemerasan, penyalahgunaan profesi, hingga penyebaran informasi yang tidak sesuai fakta.
“Kalau aparat hanya melihat satu sisi, kebenaran tidak akan pernah muncul. Semua harus dibuka, siapa pun yang terlibat,” tegas salah satu sumber.
Jangan Biarkan Hukum Dikendalikan Opini
Kasus ini dinilai menjadi ujian nyata bagi integritas penegakan hukum dan profesionalitas media. PT STS menegaskan harapannya agar proses hukum berjalan objektif, transparan, dan bebas dari intervensi kepentingan.
“Hukum tidak boleh tunduk pada tekanan, apalagi opini yang dibentuk sepihak. Fakta harus jadi dasar, bukan asumsi,” tutup AD.
Kini, publik menunggu—apakah aparat akan mengurai fakta secara menyeluruh, atau justru membiarkan polemik ini terus bergulir tanpa kejelasan. (Red/Tim)


