Bali, Pemimpinmasadepan.news || Di sebuah ruang kelas sederhana di Desa Sembiran, suara anak-anak yang semula riang perlahan meredup. Bukan karena takut, tetapi karena tersentuh.
Di depan mereka, I Wayan Koster berdiri bukan sekadar sebagai pemimpin, melainkan sebagai seseorang yang pernah berada di posisi yang sama—bahkan lebih sulit.
Cerita yang Membuat Hening: “Saya Pernah Hidup Seperti Kalian…”
Dengan suara yang tenang, ia mulai membuka kisah masa kecilnya: “Dulu saya sekolah… rumah saya lantainya tanah. Makan pun tidak seperti sekarang. Pernah makan nasi jagung, nasi kladi… seadanya.”

Tak ada tepuk tangan.
Tak ada sorak sorai.
Yang ada hanyalah keheningan—hening yang penuh makna. Bagi sebagian anak, itu bukan sekadar cerita. Itu adalah cermin kehidupan mereka hari ini.
Air Mata yang Tak Terlihat, Harapan yang Mulai Tumbuh
Cerita itu seperti menyentuh sesuatu yang paling dalam—bahwa mereka tidak sendiri dalam keterbatasan. Bahwa seseorang yang pernah hidup susah, kini berdiri di depan mereka sebagai pemimpin.
Dan dari situ, muncul satu keyakinan: mimpi bukan milik orang yang serba cukup, tapi milik siapa saja yang mau bertahan.
Bukan Janji, Tapi Bukti: 66 Anak Dibantu Langsung
Di momen yang penuh emosi itu, I Wayan Koster tidak berhenti pada kata-kata. Ia memberikan bantuan kepada 66 siswa, masing-masing Rp1 juta.
“Ini untuk beli buku, tas, baju sekolah. Jangan dipakai yang lain. Ini untuk masa depan kalian,” ucapnya penuh penekanan.
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin kecil.
Namun bagi anak-anak itu, itu adalah harapan yang selama ini terasa jauh kini hadir di tangan mereka.
Sekolah yang Pernah Hampir Hilang, Kini Dihidupkan Kembali
Koster juga mengingat bagaimana kondisi sekolah tersebut sebelumnya rusak, tidak layak, dan hampir kehilangan fungsinya sebagai tempat belajar. Bantuan sebelumnya belum cukup.
Namun hari ini, keadaan mulai berubah. Sebesar Rp129 juta digelontorkan untuk membangun kembali harapan itu memperbaiki ruang belajar, mengganti fasilitas, dan menghidupkan kembali semangat belajar.
Negara Harus Datang Lebih Dulu
Di tengah penyampaiannya, tersirat pesan yang jauh lebih besar dari sekadar bantuan: bahwa negara tidak boleh datang terlambat. Tidak boleh hadir setelah harapan padam.
“Kalau ada yang tidak layak, kita bantu. Anak-anak harus belajar dengan baik,” tegasnya.
Dari Desa Kecil, Harapan Besar untuk Indonesia
Apa yang terjadi hari itu bukan sekadar kunjungan. Bukan sekadar program. Dan bukan sekadar berita. Itu adalah pertemuan antara masa lalu yang penuh keterbatasan, dengan masa depan yang sedang diperjuangkan.
Dari lantai tanah…
dari nasi jagung… hingga ruang kelas yang mulai layak… lahir satu pesan yang begitu kuat: bahwa tidak boleh ada anak yang ditinggalkan hanya karena ia lahir dalam keterbatasan.
Dan dari Bali, suara itu kini menggema: “Negara harus hadir… sebelum mimpi anak-anak itu padam.” (Red/Tim)


