Jakarta – Aktivis senior dan tokoh vokal Tanah Betawi, Bang Jalih Pitung, angkat bicara secara tegas dalam menanggapi tuduhan keji yang beredar di ruang publik dan media daring, khususnya yang dilansir oleh portal indoposs.com.
Tudingan bahwa dirinya menerima uang “sekantong kresek” oleh saudara MM dari mantan pejabat Dinas Kebudayaan Pemprov DKI, disebutnya sebagai pembentukan opini liar tanpa dasar, data dan fakta, dan telah memenuhi unsur pencemaran nama baik yang diatur dalam UU ITE serta UU Pers No. 40 Tahun 1999.
“Itu bukan berita. Itu fitnah yang dibungkus opini busuk, yang sengaja diarahkan untuk menjatuhkan nama baik saya yang sedang berjuang memberantas korupsi,” katanya.
“Kalau mau bicara soal investigasi dan pemberitaan, saya paham betul anatominya,” tegas Jalih Pitung.
Sebagai aktivis, pengusaha, dan juga sekaligus pemilik sejumlah perusahaan media online, Jalih Pitung menegaskan bahwa ia sangat memahami prinsip kerja jurnalistik, kode etik pers, serta konsekuensi yuridis dari setiap narasi yang disebarkan ke ruang publik.
“Media juga jangan asal njeplak. Kita ini negara hukum, bukan negara opini. Kalau sampai berita bohong ini memicu kegaduhan sosial, maka dampaknya bisa berat—baik secara hukum maupun moral.”
Tegas Tapi Masih Berjiwa Besar: Maaf Bisa Jadi Jalan Damai
Meski menyatakan bahwa kasus ini sudah dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Jalih Pitung masih membuka ruang penyelesaian damai, asalkan pihak indoposs.com bersedia mengakui kesalahan dan meminta maaf secara terbuka.
“Kalau mereka gentle, datang dan minta maaf, saya bisa terima. Tapi kalau ngotot, bersiaplah berhadapan dengan saya. Jangan salahkan saya kalau nanti ada konsekwensi hukum atas perbuatannya,” katanya saat dihubungi.
Jalih juga menyoroti bahwa tudingan ini muncul saat dirinya sedang getol menginvestigasi kasus dugaan korupsi APBD DKI Jakarta 2024. Khususnya dinas kebudayaan DKI Jakarta dan adanya dugaan anggaran ganda di dinas Parekraf. Bagi Jalih, ini bukan kebetulan. Justru bisa jadi bagian dari strategi “serangan balik” oknum tertentu yang takut terbongkar.
Kasus APBD DKI 2024 sendiri mencakup:
“Saya diam bukan berarti takut, lemah atau merasa salah,” imbuhnya.
“Tapi saya sedang menginvestigasi siapa konspirator dan master Mind nya dalam pembusukan ini,” ungkapnya.
“Jangan-jangan saya difitnah karena konsistensi saya dalam upaya membongkar skandal itu?” ucap Jalih dengan nada curiga.
“Atau bisa jadi mereka yang melempar tuduhan itu sendiri yang menerima dan berlindung dibalik fitnah yang dilontarkan,” tambahnya menduga.
Jalih Pitung juga menceritakan tentang bagaimana gigihnya dia melakukan investigasi dan mengumpulkan data dan dokumen serta rekaman percakapan sekaligus hasil wawancara dengan korban dan saksi.
“Saya punya lengkap datanya dalam bentuk apapun yang dibutuhkan. Namun selain sudah masuk penyidikan bahkan peradilan serta saya bukan Cemen kaleng, maka tidak etis jika saya buka diruang publik,” Jalih Pitung mengingatkan.
“Jangan mengomentari masalah tanpa menguasai anatomi masalahnya,” pungkas Jalih Pitoeng tegas.
Jalih Pitung juga mengingatkan kepada mereka yang menyebarkan narasi tanpa memahami duduk perkara.
“Kalau mau mengomentari masalah, kuasai dulu anatomi masalahnya. Jangan taunya cuma sedengkul, tapi komentarnya sebakul,” sindirnya pedas.
Pantun Penutup:
Malam Jumat bakar dupa,
Buat tolak bala dari segala dosa. Kalau tak mau berurusan dengan hukum negara, Jangan sekali-kali bermain dengan fitnah dan dusta!
Catatan Redaksi:
Rilis ini merupakan klarifikasi resmi atas pemberitaan dan opini menyudutkan terhadap Jalih Pitung. Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan penyelesaian melalui jalur hukum dan tidak membiarkan ruang digital menjadi tempat pembantaian karakter tanpa pertanggungjawaban.
#HukumBukanHoax
#BetawiMelawanFitnah
#PersBermartabatTanpaJebakan