Jakarta – Prof. DR. H. Tubagus Bahrudin, SE., MM menyatakan kesiapannya untuk maju dalam kontestasi Pemilihan Presiden 2029. Hal tersebut disampaikannya dalam sambutan pada acara Relawan Nusantara yang dipimpin oleh Ketua Ahmad Fauzi.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Bahrudin mengaku merasa terhormat atas undangan yang diberikan dan mengapresiasi seluruh panitia serta tamu undangan yang hadir.
Ia mengungkapkan bahwa dorongan untuk maju sebenarnya telah muncul sejak 2024. Saat itu, dirinya diajak oleh kalangan Kesultanan, termasuk Prabu Kusumo yang memiliki hubungan dengan keluarga Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Deklarasi pun sempat dilakukan di Hotel Ambarrukmo, Yogyakarta.
Namun, perjalanan politiknya tidak selalu berjalan mulus. Sebagai mantan kader Partai Golkar dan eks anggota DPR RI dari daerah pemilihan Kabupaten dan Kota Tangerang, ia mengaku telah merasakan dinamika keras dunia politik.
“Dalam politik, disalib dan disalip itu hal yang biasa,” ujarnya.
Prof. Bahrudin juga menyampaikan bahwa dukungan terhadap dirinya terus berkembang di berbagai daerah, termasuk di Sumatera Utara yang telah melakukan deklarasi di bawah komando tokoh akademisi setempat.
Ia optimistis dapat melaju pada Pilpres 2029 dengan dukungan enam partai politik, yang terdiri dari dua partai besar dan empat partai kecil.
Menariknya, ia juga mengungkapkan bahwa sejumlah tokoh nasional telah menjalin komunikasi dengannya, termasuk Anies Baswedan yang disebut pernah menawarkan posisi calon wakil presiden. Namun, ia menyatakan belum siap menerima tawaran tersebut.
Menurutnya, pencalonan dirinya dilandasi oleh dorongan kuat dari masyarakat. Ia mengusung konsep kepemimpinan “bocah angon”, yaitu pemimpin yang mengutamakan kesejahteraan rakyat di atas kepentingan pribadi.
Prof. Bahrudin juga menyampaikan bahwa dukungan terhadap dirinya terus berkembang di berbagai daerah, termasuk di Sumatera Utara yang telah melakukan deklarasi di bawah komando tokoh akademisi setempat.
Ia optimistis dapat melaju pada Pilpres 2029 dengan dukungan enam partai politik, yang terdiri dari dua partai besar dan empat partai kecil.
Menariknya, ia juga mengungkapkan bahwa sejumlah tokoh nasional telah menjalin komunikasi dengannya, termasuk Anies Baswedan yang disebut pernah menawarkan posisi calon wakil presiden. Namun, ia menyatakan belum siap menerima tawaran tersebut.
Menurutnya, pencalonan dirinya dilandasi oleh dorongan kuat dari masyarakat. Ia mengusung konsep kepemimpinan “bocah angon”, yaitu pemimpin yang mengutamakan kesejahteraan rakyat di atas kepentingan pribadi.
“Kalau rakyat makan telur, saya juga harus makan telur. Pemimpin itu harus merasakan apa yang dirasakan rakyat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti berbagai persoalan bangsa, mulai dari ketimpangan hukum, ketidakadilan ekonomi, hingga tingginya biaya politik.
Berdasarkan pengalamannya, untuk maju sebagai anggota legislatif diperlukan biaya besar hingga puluhan miliar rupiah.
Selain itu, ia mengkritik sistem politik dan penegakan hukum yang dinilai masih tebang pilih. Ia bahkan mengemukakan gagasan bahwa dengan kepemimpinan yang kuat dan bersih, lembaga seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tidak lagi diperlukan.
Dalam pandangannya, presiden sebagai panglima tertinggi harus mampu memastikan tata kelola pemerintahan berjalan bersih tanpa korupsi.
Prof. Bahrudin juga menekankan pentingnya peran media sebagai sarana penyampai informasi kepada masyarakat. Ia menilai media perlu mendapat perhatian lebih karena memiliki peran strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Di akhir sambutannya, ia memohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia agar niatnya mengabdi kepada bangsa dapat terwujud.
Ia berharap Indonesia ke depan dapat menjadi negara yang adil dan makmur, dengan kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat serta sistem pemerintahan yang lebih baik.


