Cianjur 27 Maret 2025 – Kang Fajri Ketua Saba Leuweung Paksi kembali buktikan keberadaan jejak sisa Kerajaan Kuta Tanggeuhan, yang berlokasi di Kampung Cidaweung Desa Batu Lawang Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Sindanglaya Kabupaten Bogor. Dalam perjalan kali ini Kang Fajri didampingi Nyai Jingga Samudra, warga setempat, juga Influencer Elhan Zakaria yang diundang khusus untuk merangkum berita temuan bukti bukti adanya ribuan makam buhun (Sunda Kuno), yang diyakini komplek pemakaman Raja Raja Sunda pada masa Kerajaan Kuta Tanggeuhan.
Klik Link Ini Untuk Melihat Video Pembuktian Penemuan Sisa Kerajaan Pajajaran Di Kuta Tanggeuhan
Berawal dari mimpi dijemput kereta kencana kuda dan perjalanan spiritual, Kang Fajri yang bernama lengkap Fajri Maulana Rifai atau yang biasa dipanggil Ali Usman, Pegiat Budaya Spiritual yang konsisten terus tingkatkan perhatian kepada temuan komplek pemakaman dan punden berundak yang masih tertimbun di area Kuta Tanggeuhan, namun terang terangan ia menyatakan bahwa Ia berharap kepada hadirnya pemerintah.
“awal saya temukan area pemakaman ini dulu bersama Kang Suherman, tahun 2017 tanggal 17, nah ditemukan makam di komplek 17 yang dimana masyarakat setempat menyebutnya makam 17, setelah dibuka ternyata lebih dari 17 bahkan ribuan makam, saya konsisten terus lakukan babad alas hingga banyak temuan, saya berharap pa Gubernur Jawa Barat Pa Dedi bisa segera turun kesini, untuk meninjau dan untuk menyelamatkan situs warisan leluhur Sunda ini”, ucapnya.
Kang Fajri juga menambahkan “situs Kuta Tanggeuhan adalah cikal bakal Kerajaan Pajajaran” tambahnya.
Perlu diketahui sesuai dengan rangkuman Influencer Elhan Zakaria, yang juga Wasekjen 3 Aliansi Wartawan Indonesia (AWI), mengikuti menyusuri semak belukar dimana ditunjukkan Kang Fajri terdapat komplek pemakaman Raja Raja Sunda. Keberadaan Situs Kuta Tanggeuhan selaras dengan apa yang tertulis didalam naskah pantun Pakujajar Beukah Kembang, seperti yang diterangkan Kang Fajri.
“saya lakukan wawancara dengan Kang Fajri, dan beliau mengatakan jelas didalam naskah pantun itu tertulis letak geografis yang sekarang disebut Situs Kutatanggeuhan, kang Fajri sendiri menyampaikan bahwa ini sesuai dengan naskah pantun yang mana pantun itu sudah berada ratusan tahun lalu, yang disusun ulang oleh Kang Anis, diarea ini juga Kang Fajri menemukan artefak bersejarah berupa arca, terompet, stempel (conk), yoni, dan beberapa artefak lainnya” ucapnya.
Warga sekitar yang ditemui dan diwawancarai Elhan Zakaria, kang Maman, Kang Wawan, dan Kang Cecep, juga menyampaikan
“bila perlu di ekskavasi, atau dibebenah, atau dirapihkan, kami setuju, kami yakin munculnya pengembangan situs Kutatanggeuhan ini akan menjadi sumber mata pencaharian warga sekitar, kami berharap Pa Dedi Mulyadi , bisa hadir dan meninjau langsung”, ucapnya seraya menutup pembicaraan. -EZ