PANDEGLANG, 16 SEPTEMBER 2026 — Ustadz Muhammad Syamsul Fajri, yang merupakan keturunan dari Syekh Karan (tokoh ulama legendaris Gunung Karang), Pandeglang, terus lestarikan dan tingkatkan kepedulian keagamaan di tengah masyarakat melalui gerakan pengajian yang berkelanjutan. Langkah ini menjadi wujud nyata penerusan nilai-nilai luhur yang ditanamkan oleh leluhur, demi menjaga keberkahan dan kemaslahatan umat. Di Jakarta ia sering adakan pengajian secara online, hal ini memudahkan akses untuk para jamaah yang lebih banyak digandrungi ibu ibu muda eksekutif.
Gerakan pengajian yang dijalankan Ustadz Muhammad Syamsul Fajri memiliki dua tujuan utama yaitu memperdalam pemahaman ilmu agama Islam, sehingga tidak hanya menjadi pengetahuan semata, tetapi mampu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, pergaulan bermasyarakat, dunia pekerjaan, hingga dalam berkontribusi bagi bangsa dan negara.
Yang kedua membekali generasi muda dengan ilmu agama, akhlak mulia, dan nilai-nilai kehidupan, agar mereka memiliki pondasi iman yang kokoh dalam menghadapi derasnya perkembangan zaman, serta tumbuh menjadi generasi yang beriman, berilmu, mandiri, dan senantiasa bermanfaat bagi sesama.
Dihubungi melalui selular Ustadz Muhammad Syamsul Fajri menyampaikan harapan kedepan bahwa melalui gerakan pengajian tematik dan berkelanjutan diharapkan generasi muda dapat tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang utuh: beriman, berilmu, berakhlak mulia, memiliki keterampilan dan kemandirian, serta mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman tanpa pernah meninggalkan nilai-nilai agama dan kearifan budaya bangsa.
“Ilmu tanpa akhlak bagai tanpa akar, kemajuan tanpa iman bagai bangunan tanpa pondasi. Kami berjuang agar anak cucu kita tetap menjadi manusia Indonesia yang beradab, berilmu, dan takut kepada Allah SWT.” ucuap Ustadz Muhammad Syamsul Fajri yang lebih akrab disapa Ustadz Ganteng.

Ia juga menekankan terhadap kewaspadaan sedari dini kepada generasi muda yang ahlaknya harus selalu dipantau oleh orang tua berhubung sudah banyak anak lelaki muda dandan seperti wanita.
“juga saya mohon maaf bukan menggurui ya, anak anak kecil zaman sekarang sudah harus diwaspadai sejak dini jangan sampai menyerupai boti dandan nya, jangan sampai anak anak kita seperti itu, melenceng sedikit langsung ingatkan, luruskan kembali oleh orangtuanya” tambahnya.
Sebutan Boti yang harus diwaspadai menurut Ustadz Muhammad Syamaul Fajri adalah Istilah ini merujuk pada pria (terutama dalam komunitas gay) yang berperan pasif atau feminin dalam hubungan sesama jenis. Belakangan, kata ini sering dipakai di media sosial sebagai sebutan atau ejekan bagi laki-laki yang menunjukkan gestur, gaya bicara, atau dandanan yang bersifat feminin. (EZ)


